Rabu, 19 Februari 2014


Menguji ekstrak bunga lavender sebagai obat anti nyamuk
Ivan Dicky Y IX-5/15





BAB I
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang Masalah
Nyamuk memang merupakan salah satu serangga yang menyebalkan. Akibat gigitan nyamuk, kulit kita akan menjadi bentol dan gatal. Belum lagi adanya nyamuk yang membawa penyakit yang berbahaya. Penyakit yang umumnya dikenal akibat gigitan nyamuk adalah penyakit demam berdarah dan malaria.
Untuk mengusir nyamuk, cara yang dapat dilakukan adalah menyemprot dengan obat nyamuk atau dengan menggunakan obat nyamuk bakar dan elektrik. Tetapi, cara ini cenderung tidak aman karena kandungan bahan kimia yang ada di dalamnya.Sebagai cara yang alami, kita dapat menggunakan bunga sukun jantan sebagai bahannya.
1.2         Rumusan Masalah
1.      Mengapa lavender bisa digunakan untuk mengusir nyamuk?
2.      Bagaimana cara mengolah lavender sehingga bisa digunakan untuk mengusir nyamuk?
3.      Lebih efektif mana cara mengusir nyamuk dengan lavender atau obat nyamuk?

1.3         Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk :
1.      Membandingkan cara mana yang lebih efektif dalam mengusir nyamuk
2.      Meneliti ketahanan ekstrak lafender untuk mengusir nyamuk
1.4         Manfaat Penelitian
Penelitian ini bisa berguna untuk :
1.      Memberi tahu masyarakat untuk mengganti obat nyamuk kimia dengan yang alami
2.      Dapat menghijaukan lingkungan
3.      Membuat lavender bermanfaat






Bab II
KAJIAN LITERATUR
2.1           Lavender
          Bunga Lavender dengan nama latin Lavandula Afficinalis syn. L. angusifolia (Lamiaceae), berbentuk kecil dan berwarna ungu, itulah enampakan bunga lavender. Tanaman ini berasal dari Eropa, tepatnya di wilayah Perancis. Ia digunakan sebagai parfum, perlengkapan upacara keagamaan (ritual) dan tanaman obat sejak zaman romawi kuno. Sebutan lavender bagi orang roma adalah lavare yang artinya menyegarkan
            Umbuh baik di ketinggian 600 – 1350 m dpl dimana semakin tinggi tempat tumbuhnya, seakin baik kualitas minyak yang dihasilkannya Perbanyakan tanaman lavender biasanya dengan menggunakan bijinya. Biji- biji yang tua dan sehat di-semaikan. Bila sudah tumbuh, dipindah ke polibag. Ketika tingginya sudah 15-20cm, dapat dipindahkan ke dalam pot atau ditanam di halaman rumah. Warna ungu yang menarik ini dapat di gosokkan ke kulit, selain aroma yang wangi, anda pn akan terhindar dari nyamuk
2.2            Kandungan Pada Bunga Lavender
Kandungan pada bunga lavender yang membuat nyamuk pergi adalah :
·         Linalool asetat
·         Minyak atsirin

2.3            Obat Nyamuk
Saat ini ada 3 jenis obat nyamuk yang beredar di pasaran yaitu : bakar,elektrik,semprot, dan lotion.Akan tetapi obat nyamuk oles bukan untuk membunuh tapi mengusir nyamuk
Secara umum, obat nyamuk memiliki manfaat ntuk membunuh dan mengusir nyamuk. Efek obat nyamuk ditentukan oleh bahan aktif atau bahan racunnya. Obat nyamuk mengandung bahan aktif organofosfat pembunuh serangga, ditambah bahan pewangi dll
Obat nyamuk jenis bakar dan semprot lebih mudah membunuh nyamuk. Konsentrasi dan efek obatnya berbeda – beda, tergantung pada jumlah pemakaiannya. Bahaya obat nyamuk tergantung juga dari konsentrasi bahan aktifnya dan frekuensi pemakaian
Semua efek obat nyamuk memiliki bahaya dan dampak bagi kesehatan. Kalau dilihat dari bentuknya, obat nyamuk bakar efeknya lebih berat karena mengeluarkan asap, sehingga langsung terhirup masuk ke saluran pernafasan. Obat nyamuk semprot berisiko lebih kecil karena disemprotkan dan diubah menjadi gas, sehingga dosisnya menjadi lebih kecil. Dan obat nyamuk elektrik kadar racunnya leih kecil, karena di keluarkan dengan daya listrik
Efek obat nyamuk menjadi lebih berbahaya terhadap anak kecil, karena daya tahan tubuhnya masih rendah. Untuk itu anak yang memiliki riwayat alergi atau asma, resiko bahaya lebih besar karena mudah batuk – batuk dan sesak nafas. Racun obat nyamuk masuk ke dalam tubuh melalui hirupan, saluran pernafasan atau kulit kemudian ke pembuluh darah dan masuk ke organ tubuh. Karena sebagian besar obat nyamuk di hirup, maka efek obat nyamuk berdampak langsung terhadap paru – paru. Sementara obat nyamuk oles berdampak pada kulit dan tergantung sensitifitas kulit
2.4     Hipotesis
Ekstrak bunga lavender dapat digunakan untuk mengusir nyamuk






BAB III
PROSEDUR PENELITIAN
3.1     Metode Penelitian
            Dengan menggunakan Metode Eksperimen.
Variabel Kontrol         : Kain warna hitam yang sama, tempat yang sama, jumlah nyamuk yang sama
                        Variabel Manipulasi    :  kain pertama disemprotkan anti nyamuk, kain kedua disemprotkan ekstrak lavender, kain ketiga tidak disemprotkan apa-apa
                        Variabel Respon          : Waktu yang dibutuhkan nyamuk untuk hinggap
3.2       Instrumen Penelitian
·         3 potong kain yang sama
·         Satu genggam Bunga lavender yang sudah dikeringkan
·         Obat anti nyamuk
·         Botol semprot
·         200ml air
·         Panci
·         Spatula
·         Saringan
·         Nyamuk
·         Obat nyamuk kimia
      Wadah Pengujian
3.4       Teknik Pengumpulan data
·         Membuat ekstrak bunga lavender
o   Siapkan satu genggam bunga lavender yang sudah di keringkan
o   Lalu rebus bunga lavender hingga airnya berubah warna
o   Dinginkan lalu saring
o   Masukkan ke dalam botol semprot
Lalu semprot di kain
·         Pengujian
- Siapkan 3 potong kain
- Kain pertama disemprot anti nyamuk
- Kain kedua di semprot ekstrak bunga lavender
- Kain ketiga tidak di semprot apa-apa
- Amati setiap 1 jam sekali
- Catat data yang di peroleh






BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

No
Kain
Waktu
1
Disemprotkan obat nyamuk
>6 jam
2
Disemprotkan ekstrak lafender
4 jam
3
Tidak disemprotkan apa-apa
10 menit
Saya melakukan penelitian ini di rumah saya di Gebang Raya AR-06, pada 17 Februari 2014 pada jam 18.00.Ketiga kain saya tempatkan di tempat yang sama selama 6 jam. Dan inilah hasilnya
·         Kain pertama yang disemprotkan obat nyamuk bisa bertahan tanpa dihinggapi nyamuk selama lebih dari 6 jam
·         Kain kedua yang disemprotkan ekstrak lafender bisa bertahan tanpa dihinggapi nyamuk selama 4 jam
·         Kain ketiga yang tidak disemprotkan apa-apa bisa bertahan tanpa dihinggapi nyamuk selama 10 menit















BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
Ektrak bunga lafender bisa melindungi kita dari nyamuk, namun untuk waktunya lebih tahan lama obat anti nyamuk kimia pada umumnya
5.2 Saran

Mengganti obat anti nyamuk kimia yang biasa dipakai dengan ekstrak bunga lafender, karena terbuat dari bahan alami dan tidak berbahaya, meskipun waktu bertahannya lebih lama obat nyamuk kimia pasaran

Posted on 07.37 by Ivan Dicky Yamarditya

2 comments

Portfolio IPA Pewarisan Sifat Ivan Dicky Y IX-5/15

Istilah kromosom pertama kali diperkenalkan oleh W. Waldeyer. Kromosom berasal dari dua kata, yaitu chroma (warna) dan soma (badan). Istilah ini muncul karena bagian ini akan jelas terlihat di bawah mikroskop apabila diberi zat warna. Kromosom terletak di dalam nukleus (inti sel). Inti sel tubuh dan inti sel kelamin suatu organisme mempunyai jumlah yang berbeda. Kromosom yang terletak di dalam inti sel tubuh bersifat haploid (2n), sedangkan yang terletak di dalam inti sel kelamin (gamet) bersifat haploid (n). Jumlah kromosom pada sel tubuh manusia sebanyak 46 (23 pasang), sedangkan pada sel kelaminnya (sperma atau ovum) sebanyak 23. dalam setiap kromosom manusia terdapat ribuan gen.
macam-macam kromosom :
Berdasarkan fungsinya, kromosom dibedakan menjadi kromosom tubuh dan kromosom kelamin.Kromosom tubuh atau autosom adalah kromosom yang tidak menentukan jenis kelamin, berjumlah 2n-2. pada manusia jumlah autosom pada setiap sel tubuh sebanyak 44 (22 pasang). Kromosom kelamin (seks) atau gonosom adalah kromosom yang menentukan jenis kelamin, berjumlah sepasang. Kromosom kelamin pada wanita XX, sedangkan laki-laki XY.

Istilah – Istilah dalam Penurunan Kromosom :
o   Parental (P), yaitu induk (jantan dan betina) yang mengadakan perkawinan/persilangan. Parental disebut juga orang tua/tetua.
o   Filial (F), yaitu individu hasil persilangan, disebut juga keturunan/zuriat. Keturuanan pertama diberi simbol F1, keturunan kedua diberi simbol F2, dst.
o   Gen dominan, yaitu gen yang mampu menutupi sifat gen lain yang sealel.
o   Gen resesif, yaitu gen yang ditutupi oleh sifat gen lain yang sealel.
o   Gen intermediat/kodominan, yaitu gen yang tidak saling mengalahkan atau mempunyai pengaruh yang sama kuat.
o   Alel, yaitu gen-gen yang terletak pada kromosom homolog.
o   Fenotipe, yaitu sifat-sitat yang tampak dari luar, dapat dicium, dapat dirasakan, misalnya rambut lurus, batang tinggi, bunga merah. bau harum, dan rasa manis. Fenotipe merupakan perpaduan antara faktor genotipe dan faktor lingkungan.
o   Genotipe, yaitu sitat yang tidak tampak dari luar dan disimbolkan dengan huruf awal sifat-sifat yang diwakilinya. Sifat dominan disimbolkan dengan huruf besar. sedang sifat resesif disimbolkan dengan huruf kecil. Misalnya, batang tinggi dominan terhadap batang pendek. Gen batang tinggidisimbolkan dengan huruf T, sedangkan batang pendek djsimbolkan dengan huruf t. Sifat pada genotip disimbolkan dengan huruf yang ditulis rangkap. misalnya TT, Tt, atau tt.
o   Homozigot, yaitu pasangan gen yang mempunyai alel yang sama. misalnya AA atau mm.
o   Heterozigot, yaitu pasangan gen yang mempunyai alel yang berbeda. misalnya Aa atau Mm.
o   Hibrid, yaitu hasil persilangan atau hasil perkawinan antara dua individu yang mempunyai sifat beda. Persilangan dengan satu sitat beda disebut persilangan monohibrid, persilangan dengan dua sifat beda disebut persilangan dihibrid. persilangan dengan tiga silat beda disebut persilangan trihibrid, dan seterusnya.
PERSILANGAN MONOHIBRID
Persilangan monohibrid merupakan persilangan dengan karakter tunggal. Perbedaan karakter bentuk biasanya dikendalikan dengan alel berbeda yang terletak pada gen yang sama. Sebagai contoh, persilangan monohibrid antara dua tanaman galur murni (homozigot untuk masing-masing sifat), biji-biji berwarna kuning (sifat dominan) dan biji-biji berwarna hijau (sifat resesif), telah menghasilkan generasi F1 dengan warna biji kuning sebab alel-alel biji kuning lebih dominan daripada hijau. Persilangan monohibrid hanya membandingkan satusi fat, sebagai contoh dapat dilihat pada bagan berikut ini

            Persilangan monohibrid dalam Punnett Square, pada umumnya, karakter dominan ditunjukkan dengan huruf kapital, misalnya B sedangkan resesif nya dengan huruf kecil misalnya b. Persilangan monohibrid, genotipe tetua adalah homozigot, dan turunannya, maka generasi F1, semuanya memiliki genotipe yang heterozigot. Pada tabel,Punnet Square, menggambarkan bahwa hasil persilangan antar individu F1 yang heterozigot akan menghasilkan rasio genotipe 1 : 2 : 1, dan rasio fenotipe 3 : 1.
Bagan persilangan dapat digambarkan sebagai berikut :
B
B
B
BB
Bb
B
Bb
bb

Persilangan monohibrid banyak digunakan untuk menentukan generasi F2 dari pasangan tetua asal yang homozigot (satu tetua asal dominan dan yang lainnya resesif) dimana hasil yang diperoleh pada F1 semuanya heterozigot. Hasil perkawinan ini, melakukan penyerbukan sendiri dan menghasilkan generasi F2, dengan kemungkinan diperoleh fenotipe dominan sebanyak 75% dan 25% fenotipe resesifnya. 
Variasi Hukum I Mendel
Salah satu contoh variasi hukum mendel I adalah hubungan antara dua alel yang tidak mengekspresikan hubungan dominan resesif . Dimana pada F1 tidak ada dominasi gen dari tetua sehingga fenotip pada F1 tidak sama dengan sifat tetua dengan gen dominan. Hubungan alel ini disebut sebagai kodominan .Kodominan adalah hubungan antar alel dimana kedua alel mempunyai kontribusi pada fenotip gen heterozigot. Contoh : warna bungan tanaman bunga pukul 4


Tetua : Merah(MM) dan Putih (mm)
                        MM                       x                            mm
                     (merah)                                                (putih)


                                                   Mm
                                                  (pink)
                        
Rasio fenotip F2 : ¼ Merah (MM) : ½ Pink (Mm) : ¼ putih (mm)

PERSILANGAN DIHIBRID
Persilangan dihibrid adalah persilangan antara dua individu yang identik heterozigot pada dua lokus, sebagai contoh : RrYy/RrYy. Persilangan hibrida seringkali digunakan untuk menguji gen dominan dan resesif dalam dua karakter yang berbeda. Seperti halnya persilangan yang dilakukan dalam Genetika Mendel. Gen yang terjadi pada saat pemisahan kromosom masing-masing sepasang alel menunjukkan segregasi bebas. Keturunan pertama (generasi F1) menghasilkaan empat keturunan, generasi kedua dimana terjadi persilangan sendiri dari generasi F1 menunjukkan rasio fenotipe 9:3:3:1.
Pada Tanaman kapri, dua karakter yang terdiri dari bentuk dan warna akan digunakan sebagai contoh persilangan dihibrid dalam punnet square. R adalah gen dominan untuk bentuk bulat, sedangkan r sebagai gen resesif pembawa bentuk kisut. Y gen dominan pembawa warna kuning, sedangkan  y sebagai gen resesif pembawa warna hijau. Dengan menggunakan Punnet Square, maka gamet nya terdiri dari : RY, Ry, rY, dan ry.
RY
Ry
rY
Ry
RY
RRYY
RRYy
RrYY
RrYy
Ry
RRYy
RRyy
RrYy
Rryy
rY
RrYY
RrYy
rrYY
rrYy
Ry
RrYy
Rryy
rrYy
Rryy

Persilangan ini menghasilkan rasio fenotipe 9:3:3:1, ditunjukkan dengan warna, kuning berarti fenotipe bentuk bulat warna kuning (kedua-duanya gen dominan), hijau menunjukkan fenotipe bentuk bulat warna hijau, merah menunjukkan fenotipe bentuk kisut warna kuning, dan biru menunjukkan fenotipe bentuk kisut warna hijau (kedua-duanya merupakan gen resesif).

INTERAKSI GEN DAN LINGKUNGAN
Interaksi gen-lingkungan merupakan faktor yang mempengaruhi fenotipe. Interaksi gen-lingkungan dengan melakukan percobaan seleksi buatan pada tikus dengan memodifikasi lingkungannya berupa kondisi jalan yang sulit dengan gen kemampuan untuk berlari (Tyron, 1942). Tyron menghasilkan perbedaan dua galur terseleksi yang mampu berlari pada kondisi jalan yang sulit setelah dilakukan seleksi dari tujuh generasi yaitu galur “bright” dan “dull”. Perbedaan antara galur-galur ini genetiknya sangat nyata sejak dilakukan perkawinan kedua galur, kemudian dibesarkan dalam laboratorium dengan kondisi yang sama, pembentukanya sangat berbeda.

            Hasil ini menunjukkan bahwa kemampuan berlari pada kondisi jalan yang sulit sebagai akibat adanya interaksi gen dengan lingkungan, pengaruh genetik hanya dapat dilihat pada beberapa kondisi lingkungan

Posted on 07.01 by Ivan Dicky Yamarditya

No comments