Portfolio IPA Pewarisan Sifat Ivan Dicky Y IX-5/15
Istilah
kromosom pertama kali diperkenalkan oleh W. Waldeyer. Kromosom berasal dari dua
kata, yaitu chroma (warna) dan soma (badan). Istilah ini muncul karena bagian
ini akan jelas terlihat di bawah mikroskop apabila diberi zat warna. Kromosom
terletak di dalam nukleus (inti sel). Inti sel tubuh dan inti sel kelamin suatu
organisme mempunyai jumlah yang berbeda. Kromosom yang terletak di dalam inti
sel tubuh bersifat haploid (2n), sedangkan yang terletak di dalam inti sel
kelamin (gamet) bersifat haploid (n). Jumlah kromosom pada sel tubuh manusia
sebanyak 46 (23 pasang), sedangkan pada sel kelaminnya (sperma atau ovum)
sebanyak 23. dalam setiap kromosom manusia terdapat ribuan gen.
macam-macam kromosom :
Berdasarkan fungsinya,
kromosom dibedakan menjadi kromosom tubuh dan kromosom kelamin.Kromosom tubuh
atau autosom adalah kromosom yang tidak menentukan jenis kelamin, berjumlah
2n-2. pada manusia jumlah autosom pada setiap sel tubuh sebanyak 44 (22 pasang).
Kromosom kelamin (seks) atau gonosom adalah kromosom yang menentukan jenis
kelamin, berjumlah sepasang. Kromosom kelamin pada wanita XX, sedangkan
laki-laki XY.
Istilah – Istilah dalam
Penurunan Kromosom :
o Parental (P), yaitu induk (jantan dan betina) yang
mengadakan perkawinan/persilangan. Parental disebut juga orang tua/tetua.
o Filial (F), yaitu individu hasil persilangan,
disebut juga keturunan/zuriat. Keturuanan pertama diberi simbol F1, keturunan
kedua diberi simbol F2, dst.
o Gen dominan, yaitu gen yang mampu menutupi sifat gen
lain yang sealel.
o Gen resesif, yaitu gen yang ditutupi oleh sifat gen
lain yang sealel.
o Gen intermediat/kodominan, yaitu gen yang tidak
saling mengalahkan atau mempunyai pengaruh yang sama kuat.
o Alel, yaitu gen-gen yang terletak pada kromosom
homolog.
o Fenotipe, yaitu sifat-sitat yang tampak dari luar,
dapat dicium, dapat dirasakan, misalnya rambut lurus, batang tinggi, bunga
merah. bau harum, dan rasa manis. Fenotipe merupakan perpaduan antara faktor
genotipe dan faktor lingkungan.
o Genotipe, yaitu sitat yang tidak tampak dari luar
dan disimbolkan dengan huruf awal sifat-sifat yang diwakilinya. Sifat dominan
disimbolkan dengan huruf besar. sedang sifat resesif disimbolkan dengan huruf
kecil. Misalnya, batang tinggi dominan terhadap batang pendek. Gen batang
tinggidisimbolkan dengan huruf T, sedangkan batang pendek djsimbolkan dengan
huruf t. Sifat pada genotip disimbolkan dengan huruf yang ditulis rangkap.
misalnya TT, Tt, atau tt.
o Homozigot, yaitu pasangan gen yang mempunyai alel
yang sama. misalnya AA atau mm.
o Heterozigot, yaitu pasangan gen yang mempunyai alel
yang berbeda. misalnya Aa atau Mm.
o Hibrid, yaitu hasil persilangan atau hasil
perkawinan antara dua individu yang mempunyai sifat beda. Persilangan dengan
satu sitat beda disebut persilangan monohibrid, persilangan dengan dua sifat
beda disebut persilangan dihibrid. persilangan dengan tiga silat beda disebut
persilangan trihibrid, dan seterusnya.
PERSILANGAN MONOHIBRID
Persilangan
monohibrid merupakan persilangan dengan karakter tunggal. Perbedaan karakter
bentuk biasanya dikendalikan dengan alel berbeda yang terletak pada gen yang
sama. Sebagai contoh, persilangan monohibrid antara dua tanaman galur murni
(homozigot untuk masing-masing sifat), biji-biji berwarna kuning (sifat
dominan) dan biji-biji berwarna hijau (sifat resesif), telah menghasilkan
generasi F1 dengan warna biji kuning sebab alel-alel biji kuning lebih dominan
daripada hijau. Persilangan monohibrid hanya membandingkan satusi fat, sebagai
contoh dapat dilihat pada bagan berikut ini
Persilangan monohibrid dalam Punnett
Square, pada umumnya,
karakter dominan ditunjukkan dengan huruf kapital, misalnya B sedangkan resesif
nya dengan huruf kecil misalnya b. Persilangan monohibrid,
genotipe tetua adalah homozigot, dan turunannya, maka generasi F1, semuanya
memiliki genotipe yang heterozigot. Pada tabel,Punnet Square, menggambarkan bahwa hasil persilangan antar individu F1 yang
heterozigot akan menghasilkan rasio genotipe 1 : 2 : 1, dan rasio fenotipe 3 :
1.
Bagan
persilangan dapat digambarkan sebagai berikut :
B
|
B
|
|
B
|
BB
|
Bb
|
B
|
Bb
|
bb
|
Persilangan monohibrid
banyak digunakan untuk menentukan generasi F2 dari pasangan tetua asal yang
homozigot (satu tetua asal dominan dan yang lainnya resesif) dimana hasil yang
diperoleh pada F1 semuanya heterozigot. Hasil perkawinan ini, melakukan
penyerbukan sendiri dan menghasilkan generasi F2, dengan kemungkinan diperoleh
fenotipe dominan sebanyak 75% dan 25% fenotipe resesifnya.
Variasi Hukum I Mendel
Salah satu contoh
variasi hukum mendel I adalah hubungan antara dua alel yang tidak
mengekspresikan hubungan dominan resesif . Dimana pada F1 tidak ada dominasi
gen dari tetua sehingga fenotip pada F1 tidak sama dengan sifat tetua dengan
gen dominan. Hubungan alel ini disebut sebagai kodominan .Kodominan adalah
hubungan antar alel dimana kedua alel mempunyai kontribusi pada fenotip gen
heterozigot. Contoh : warna bungan
tanaman bunga pukul 4
Tetua
: Merah(MM) dan Putih (mm)
MM
x
mm
Mm
(pink)
Rasio
fenotip F2 : ¼ Merah (MM) : ½ Pink (Mm) : ¼ putih (mm)
PERSILANGAN DIHIBRID
Persilangan dihibrid
adalah persilangan antara dua individu yang identik heterozigot pada dua lokus,
sebagai contoh : RrYy/RrYy. Persilangan hibrida seringkali digunakan untuk
menguji gen dominan dan resesif dalam dua karakter yang berbeda. Seperti halnya
persilangan yang dilakukan dalam Genetika Mendel. Gen yang terjadi pada saat pemisahan kromosom masing-masing
sepasang alel menunjukkan segregasi bebas. Keturunan pertama (generasi F1)
menghasilkaan empat keturunan, generasi kedua dimana terjadi persilangan
sendiri dari generasi F1 menunjukkan rasio fenotipe 9:3:3:1.
Pada Tanaman kapri, dua
karakter yang terdiri dari bentuk dan warna akan digunakan sebagai contoh
persilangan dihibrid dalam punnet square. R adalah gen dominan
untuk bentuk bulat, sedangkan r sebagai gen resesif pembawa bentuk kisut. Y gen
dominan pembawa warna kuning, sedangkan y sebagai gen resesif pembawa
warna hijau. Dengan menggunakan Punnet Square, maka gamet nya terdiri dari :
RY, Ry, rY, dan ry.
RY
|
Ry
|
rY
|
Ry
|
|
RY
|
RRYY
|
RRYy
|
RrYY
|
RrYy
|
Ry
|
RRYy
|
RRyy
|
RrYy
|
Rryy
|
rY
|
RrYY
|
RrYy
|
rrYY
|
rrYy
|
Ry
|
RrYy
|
Rryy
|
rrYy
|
Rryy
|
Persilangan ini menghasilkan rasio fenotipe 9:3:3:1, ditunjukkan dengan warna, kuning berarti fenotipe bentuk bulat warna kuning (kedua-duanya gen dominan), hijau menunjukkan fenotipe bentuk bulat warna hijau, merah menunjukkan fenotipe bentuk kisut warna kuning, dan biru menunjukkan fenotipe bentuk kisut warna hijau (kedua-duanya merupakan gen resesif).
INTERAKSI GEN DAN
LINGKUNGAN
Interaksi gen-lingkungan merupakan faktor yang
mempengaruhi fenotipe. Interaksi gen-lingkungan dengan melakukan percobaan seleksi buatan pada tikus
dengan memodifikasi lingkungannya berupa kondisi jalan yang sulit dengan gen
kemampuan untuk berlari (Tyron, 1942). Tyron menghasilkan perbedaan dua galur
terseleksi yang mampu berlari pada kondisi jalan yang sulit setelah dilakukan
seleksi dari tujuh generasi yaitu galur “bright” dan “dull”. Perbedaan antara
galur-galur ini genetiknya sangat nyata sejak dilakukan perkawinan kedua galur,
kemudian dibesarkan dalam laboratorium dengan kondisi yang sama, pembentukanya
sangat berbeda.
Hasil ini menunjukkan bahwa kemampuan berlari pada kondisi jalan yang sulit
sebagai akibat adanya interaksi gen dengan lingkungan, pengaruh genetik hanya
dapat dilihat pada beberapa kondisi lingkungan
0 komentar:
Posting Komentar